Walking with “No” Purpose

September 8th, 2009 admin 2 comments

kata para motivator sih… kita memang harus selalu punya tujuan… tapi yang sering luput mereka jelaskan adalah bagaimana tidak terikat pada tujuan itu. Aaaah…sebenarnya yang akan saya jelaskan agak jauh dari ini, tapi memang inilah intinya… :)

Beberapa hari yang lalu saat saya berkunjung ke Jakarta saya sempat jenuh dengan tingkah laku saya sendiri yang entah kenapa tidak bisa saya hentikan, padahal saya ingin sekali. pakai EFT tidak bisa hilang… mungkin perlu Parts Therapy :) … akhirnya saya memutuskan untuk jalan-jalan sendirian (jalan kaki)… salah satu teknik meditasi yang saya pelajari dari buku Osho “Pharmacy of The Soul” : walking meditation.

hanya berjalan, mengamati sekitar, tanpa bicara, usahakan berjalan sendirian untuk memperkecil pembicaraan, tanpa tujuan, JUST WALKING!  hasilnya: ternyata tidak melelahkan walaupun saya berjalan lebih dari 3 jam dengan “burning” terik matahari di wilayah yang belum kukenal itu, setelah itu stress-pun teratasi.

yang membedakan teknik ini dengan sekedar jalan2 adalah: pada ‘jalan-jalan’ awam umumnya proses yang terjadi adalah pengalihan perhatian dari stress ke sesuatu yang menyenangkan sehingga sebenarnya stress tersebut tetap ada namun dilupakan (disimpan) sementara, sedangkan ‘jalan-jalan’ versi Osho ini adalah mengamati pikiran & perluasan kesadaran…sehingga keliaran emosi menjadi terkendali

Teknik ini tidak serumit yang kita pikirkan meskipun dari tulisannya terlihat demikian… silahkan coba sendiri untuk membuktikannya. Terkadang kita hanya membutuhkan teknik sederhana untuk permasalahan yg sulit..

Happy Trying..

-Icto-

What They See is What You Get

August 27th, 2009 admin No comments

Berbicara mengenai berkomunikasi, there’s uninconveinient truth you should know! makna dari komunikasi anda adalah respon yang akan anda dapatkan. Dengan kata lain: apapun maksud anda sebenarnya, makna sejati dari pesan itu adalah apa yang pada nyatanya diterima oleh orang lain termasuk yang non-verbal (bahasa tubuh)!!

Saya kutip sebuah contoh kasus dari buku “NLP for the Quantum Change” karya Phillip Hayes & Jenny Rogers:

Seorang manager dalam sebuah sesi coaching menunjukkan rasa frustasi karena disalahpahami oleh kolega & staffnya. Dia begitu shock ketika mendapat umpan balik bahwa ia terlalu kritis terhadap staff. Si manager ini memang mengakui sebagian kata-katanya memang kritis, tetapi diatas itu semua sebenarnya dia sangat puas terhadap kinerja staff-nya. Dia berkata “Tentu mereka sadar bahwa saya 99% menyukai kinerja mereka”.

Sayangnya kenyataan berkata sebaliknya: Para staff memberikan umpan balik kasar berupa perilaku yang cenderung melawan. Mereka berpikir bahwa sang manager hanyalah sesosok pemimpin bobrok yang cuma bisa mengkritik dan tidak pernah mengakui usaha bawahannya.

Sang manager seharusnya mengatakan maksud dia yang sebenarnya, sedangkan para staff memang sudah seharusnya memberikan umpan balik verbal sehingga sang manager juga mengetahui agar dia menyadari komunikasi yang diterima para staff. Apaka berarti kita harus selalu blak-blakan? Tidak juga… harus menggunakan teknik tertentu dalam penyampaiannya. akan saya bahas di artikel selanjutnya..

Kesimpulannya? Anda tidak bisa tidak berkomunikasi. Mengharapkan orang lain mengetahui dengan sendirinya tentang apa yang anda inginkan darinya merupakan the worst communication. utarakan maksud anda, entah dengan sahabat, kolega, bawahan maupun pasangan. Cheers ^o^

-icto-

Pernah Putus? Baca ini!

August 26th, 2009 admin 1 comment

Anda pernah putus? dengan pacar tentunya..dengan siapa lagi? bagi yang belum pernah putus nggak usah baca… klo ntar putus baru baca lagi.. … …saya cuma becanda.

sebagian besar pasangan putus krn berbagai macam hal.. karena orang tua, beda keyakinan, dan.. cari sendiri lah yang lain, banyak kok. yang saya bahas disini adalah putus yg sebabnya karena merasa sudah tidak ada kecocokan lagi, jenuh, tertekan, bosan, tidak ada chemistry lagi,dsb (… … kyk artis jaman sekarang y.. =_=u).

coba ingat-ingat ketika pasangan anda melakukan suatu kesalahan yang sebenarnya cukup wajar tapi tetap saja anda tidak menyukainya, kemudian karena sayang anda dapat dengan mudah memaafkannya. tetapi kemudian dia melakukannya lagi dan lagi. lama kelamaan anda merasa “dia selalu melakukannya”, lalu berkembang jadi “sudah sifat dia“, anda lama-lama tidak nyaman dengan sifat ini dan akhirnya anda memutuskan untuk mengubah dia menjadi pribadi yang lebih baik… sayangnya merubah watak dia tidak semudah itu.. dan bisa ditebak hasilnya memang anda gagal…

dan kesimpulannya:

sudah tidak ada kecocokan lagi (titik)

atau “He/She’s not the one” —> benar2 klise ^^u

siapa yang salah? saya jawab dengan 100% yakin: Anda!! Why?

1. Anda dibutakan fokus anda sendiri (cuma ini yang saya bahas di artikel ini)

2. Teknik merubahnya salah (yg ini tidak sy bahas, maybe next time )

Apa yang saya jelaskan berikut merupakan sebagian kecil dari konsep belief yang saya pelajari dari NLP (Neuro Linguistic Programming). Singkatnya, NLP merupakan teknologi berpikir yang mudah dan mempermudah, ditemukan pertama kali oleh Dr.Richard Bandler & John Grinder. lebih lengkapnya lagi silahkan browsing sendiri… kalau dari tadi anda melihat saya seperti orang tidak niat, memang… jadi mohon dimaafkan dan dimaklumi..hehehe .

Kita akan membahas bagaimana fokus kita menghancurkan segalanya: Mula-mula, ketika pasangan kita melakukan kesalahan lebih dari sekali… kita akan melakukan suatu generalisasi. Apa itu generalisasi? untuk mempermudah: Generalisasi adalah kesimpulan yang kita ambil berdasarkan referensi dari apa yang kita lihat, dengar dan rasakan. Artinya kita selalu menggunakan “kaca mata” tertentu dalam melihat suatu objek, atau biasanya orang umum menyebut kaca mata ini ‘persepsi’. Yang perlu digarisbawahi di sini adalah kata referensi. Kita tidak dapat melihat tanpa referensi sama sekali. karena itu tiap generalisasi akan membentuk persepsi kita atau memperkuat persepsi lama yang sudah nongol (baca:ada) duluan…

Yaaaaaah…. lagi-lagi soal persepsi.. pasti ujung2nya juga harus saling mengerti… eeeeit… tunggu dulu.. baca lanjutannya dulu.. sabar bos..

Setelah mengetahui bahwa Generalisasi-lah yang membentuk model dunia kita, kita juga harus tahu lanjutan proses ini, yaitu masalah fokus. Tiap Generalisasi membuat kita memilih apa yang menjadi fokus kita, dan fokus kita menentukan apa yang AKAN kita lihat, dengar, dan rasakan. Lho kok? Contoh: ketika dia melakukan kesalahan lebih dari sekali, kita kita akan berkesimpulan “dia selalu melakukan kesalahan yang sama”… kita ambil contoh saja misalnya: “dia selalu ceroboh” Generalisasi ini membuat kita memilih untuk fokus pada kecerobohan dia. Akhirnya yang akan kita lihat adalah selalu segala sesuatu yang berhubungan kecerobohannya. Lalu bagaimana dengan hal-hal baik yang dia perbuat? Dihapus! dengan kata lain, kita tidak menghiraukan sisi positif yang dia berikan… kita anggap seperti angin lalu saja. Kok bisa demikian?

Mudah saja…. di Mind Technology yang berkutat pada bagaimana cara kerja pikiran, dijelaskan cara kerja fokus kita:

Pikiran mempunyai sifat suka menyederhanakan sesuatu berdasarkan pola informasi yang sudah ada sebelumnya (berdasarkan referensi kita), sehingga hal-hal yang tidak sesuai dengan pola sebelumnya akan disederhanakan (baca:dihapus), sehingga segala sesuatu akan terlihat seolah-olah seperti sama dengan sebelumnya, padahal sebenarnya pikiran kita sedang menyama-nyamakan alias dipaksakan sama.

Karena itulah sebenarnya kenapa kita selalu bisa menemukan kesalahan orang, atau menganggap seseorang tidak pernah berubah, atau segala apapun yang membuat kita semakin membenci seseorang . Apakah berhenti sampai di situ?

masih belum… ada satu proses lagi namanya distorsi. Agak panjang menjelaskan arti distorsi, yang jelas efeknya adalah menguatkan generalisasi yang sudah ada sebelumnya dengan suatu konfirmasi/pembenaran.

misalnya: kembali ke contoh “dia selalu ceroboh”, fokus kita akan membawa kita melihat kecerobohan dia, dan kita berkata “Nah..!”, atau “tuh kan bener!?!” setiap kali terbukti dia melakukan kecerobohan… inilah yang saya maksud konfirmasi/pembenaran yang memperkuat generalisasi sebelumnya. kira2 demikian efek distorsi

Padahal coba anda tanyakan pada diri anda dengan sangat jujur dan obyektif, misalnya untuk kasus kecerobohan: “Apakah dia benar-benar selalu ceroboh? tidak pernah sekalipun tidak ceroboh?” Kenyataannya adalah bahwa kecerobohan dia memang sebenarnya terjadi hanya sesekali, dan tindakan yg tidak ceroboh sebenarnya lebih banyak. hanya saja fokus kita membuat kita hanya melihat kecerobohannya.

Hal inilah juga yang membuat banyak pasangan suami istri semakin lama semakin pudar cintanya (sebagaimanapun kuatnya cinta mereka dulu), karena fokus mereka sendiri, setiap hari yang mereka lihat adalah kekurangannya. akhirnya semakin banyak hal-hal yang menunjukkan kekurangan tersebut, dan tragisnya mereka atau setidaknya salah satu dari mereka mulai mempercayai itu sebagai “label” pasangannya.

Bagaimana kalau memang ternyata  orang yang sering grogi sehingga sering ceroboh? juga bukan kesalahan dia… yang seperti itu sebenarnya ada masalah mental yang harus dibereskan (bukan sakit jiwa lho ya!! ), lagipula keputusan dia untuk menjadi seperti apa juga memang adalah hak dia, yang salah tetap anda karena bagaimanapun tidak ada yang memaksa anda untuk menerima dia dengan segala kekurangannya, itu keputusan anda kan? dan apakah anda yakin benar-benar tidak ikut andil dalam kesalahannya? membiarkankan terus melakukannya juga berarti anda ikut andil dalam membuat diri anda sendiri tidak bahagia.

Karena itu sebelum kita dapat memahami ini dengan benar, dengan siapapun pasangan anda nanti, saya berani jamin LAMA KELAMAAN ANDA AKAN BOSAN JUGA SEKUAT APAPUN CINTANYA SEKARANG. Karena itu daripada sibuk mencari yang benar-benar pas (yang kenyataannya tidak akan mungkin ada), lebih baik belajar menyadari bagaimana pikiran kita membunuh rasa cinta itu. Dengan begitu kita tidak akan membiarkan cinta kita mati begitu saja dan mulai fokus pada apa yang kita sebenarnya inginkan, apa yang kita cari, apa yang sebenarnya akan membahagiakan kita. Coba ingat2 saat pertama kali bertemu….. indah kan? kalau dulu bisa kenapa sekarang tidak bisa?

Masih ingat cerita Thomas Alfa Edison (penemu) yang gagal hingga percobaan ke 1000 dan akhirnya berhasil di percobaan ke 1001? Keputusan dia untuk tidak mempercayai kegagalannya-lah yang membawa keberhasilan pada akhirya. Gagal 1000x bukan berarti anda tidak bisa…  keberhasilannya itu karena dia fokus pada apa yang seharusnya dilakukan, bukannya mempercayai kegagalannya & meninggalkan percobaannya. Bayangkan kalau dia gagal..mungkin tidak ada lampu sekarang ^^u

Pernah mencari suatu barang yang ternyata kita tetap tidak bisa menemukan, kemudian orang lain yang mencarinya dan langsung ketemu dengan mudahnya? ini juga karena fokus kita untuk “tidak menemukan” atau kita “fokus pada yang lain”. Fokus kita jugalah yang membuat kita bertemu dengan orang-orang yang sejenis, yang sesuai dengan apa yang kita fokuskan, dan fokus kita berawal dari generalisasi awal yang malah tidak sejalan dengan apa yang kita inginkan. Profesor ketemu sesamanya, anak band ketemu sesamanya, anak kuper ketemu sesamanya, anak gaul ketemu sesamanya, bahkan tidak sedikit juga kita temukan “gank jomblo”. Apapun yang anda generalisasikan, itulah yang terlihat, jadi jangan meng-generalisasikan berdasarkan apa yang tidak anda inginkan, melainkan berdasarkan apa yang anda harapkan terjadi nantinya .

hanya dengan modal ini memang anda belum bisa menyelesaikan masalah seutuhnya, sebab banyak sekali yang tidak saya bahas di sini mengenai cara kerja pikiran (dalam menipu kita )

icto sendiri juga dulu sering mengalami dan baru akhir-akhir ini menyadarinya, tetapi untungnya banyak presuposition NLP (tidak dibahas disini) yang sangat membantu sehingga bisa disadari dengan cepat. Bahkan dulu icto putus dengan mantan icto gara2 ini, hanya saja waktu itu krn belum sadar icto berdalih “beda idealisme”, padahal karena efek fokus ini…klo ketemu lagi saya pasti minta maaf mudah2an tidak jatuh ke lubang yang sama, tapi pacar icto yg sekarang pengertian kok, setidaknya icto bisa melihatnya setelah pergantian fokus ini. Tetapi hal ini harus diketahui kedua belah pihak..ketidaktahuan pada salah satu pihak tetap akan mengakibatkan kegagalan juga (mungkin anda akhirnya bisa tidak membenci dia, tetapi dia yang tidak bisa mengatasi rasa bencinya pada anda..apa boleh buat kalau begitu? ). Don’t let your mind fuck you.. Save your love, save your feeling

Sulit menghilangkan emosi-emosi yang sudah menumpuk itu? memang sulit…apalagi kalau hanya sedikit sisa rasa sayang yg msh ada.. saya menggunakan teknik EFT yang saya pelajari dari Bpk.Adi W Gunawan untuk menghilangkan itu…mungkin akan saya bahas nanti.

Intinya sekarang adalah fokuskan pikiran anda pada generalisasi-generalisasi yang menunjang hubungan anda, nantinya anda pasti akan melihat hal-hal baik yang tidak pernah anda lihat sebelumnya. bukan berarti jg tidak mungkin terjadi apa2, hanya saja anda memegang kendali atas pasangan seperti apa yang akan anda pilih. teorinya cukup mudah memang..untuk teknisnya akan saya bahas di postingan selanjutnya

membahas bagaimana pikiran sering menipu kita memang begitu luas cakupannya, so.. just wait 4 my article in different topic, akan saya bahas lanjutannya..next time

http://www.icto-live.pro.tc

all about what icto have learned will be casted here